Peluruhan Alfa


BAB I

PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Kajian kita tentang berbagai peluruhan radioaktif dan reaksi inti memperlihatkan bahwa alam tidak memilih secara sebarang hasil peluruhan atau reaksi yang terjadi, melainkan terdapat beberapa hukum tertentu yang membatasi hasil yang mungkin terjadi.
Radioaktivitas merupakan pemancaran spontan partikel – partikel radioaktif oleh inti – inti atom yang tidak stabil. Radioaktivitas ditemukan pertama kali oleh Henri Becquerel. Radioaktivitas ini digolongkan menjadi unsur – unsur radioaktif dan partikel – partikel radioaktif. Unsur radioaktif adalah unsur – unsur yang memancarkan partikel – partikel radioaktif secara spontan.
Peluruhan Inti tak –stabil, inti – intinya memiliki keadaan eksitasi, keadaan – keadaan eksitasi ini dapat meluruh dengan memancarkan foton – foton berenergi tinggi ketika berpindah ke keadaan dasar,secara langsung atau melewati keadaan – keadaan energi yang lebih rendah. Disamping itu, inti pada keadaan eksitasi maupun keadaan dasar dapat secara spontan memancarkan partikel – partikel lain untuk mencapai konfigurasi energi yang lebih rendah.
Ketika peluruhan inti pertama kali diseldiki, hasil – hasil peluruhanya diberi nama sinar -ℽ, partikel α, partikel –β-  dan partikel –β+. Kemudian barulah disadari bahwa hasil – hasil peluruhan ini bukanlah wujud – wujud baru,tetapi bahwa sinar-ℽ adalah foton berenergi tinggi, partikel α adalah inti helium,partikel β+ adalah electron dan partikel β- adalah positron.
Dalam berbagai reaksi, hukum – hukum kekekalan yang lazim seperti massa energy,muatan,momentum linier dan sudut selalu berlaku. Tetapi, dalam peluruhan ini, diperoleh bahwa berlaku pula hokum kekekalan nucleon, yaitu bahwa jumlah nucleon sebelum dan setelah peluruhan haruslah sama.
Dalam peluruhan alfa,sebuah partikel α dipancarkan dari sebuah inti. Oleh karena sebuah partikel adalah sebuah inti helium, maka inti induknya kehilangan dua proton dan netron.Oleh karena itu, nomor atom Z-nya berkurang sebanyak dua satuan sedangkan nomor massa A-nya berkurang sebanyak empat satuan, sehingga inti anak, D, dan induk P, merupakan unsur –unsur kimia yang berbeda.
Dengan adanya makalah ini, kami akan membahas lebih jelas mengenai terjadi pelurhan alfa, peristiwa peluruhan alfa dan reaksi spontan tidak spontan pada pelurhan alfa.

1.2  Rumusan Masalah
Rumusan Masalah yang muncul dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Definisi Partikel Alfa dan Peluruhan Alfa
2.      Bagaimana Peluruhan Alfa secara spontan dan energi kinetik partikel Alfa
3.      Peristiwa atau contph dari Peluruhan Alfa
1.3  Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui definisi Partikel Alfa
2.      Untuk mengetahui definisi Peluruhan Alfa
3.      Untuk mengetahui Peluruhan Alfa secara spontan dan energy kinetik partikel Alfa
4.      Dan mengetahui peristiwa terjadinya Peluruhan Alfa








BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Partikel Alfa dan Peluruhan Alpha
            Pada tahun 1896, Becquerel telah menemukan gejala radioaktivitas pada bahan radioaktif alam. Curie dan Rutherfod menemukan bahan pemancar radiasi alfa. Struktur nuklir pada ini mempresentasikan keadaan inti atau disebut juga sebagai partikel alfa..[1]
Partikel alfa adalah  inti atom helium yang bernomor atom 2 dan bernomor massa 4. Jenis inti yang memancarkan radiasi α disebut inti pemancar α. Selain dipancarkan oleh inti radioaktif alam, misalnya radium, uranium, dan torium, partikel αdapat juga dipancarkan oleh radionuklida buatan, proses pemancaran partikel α oleh inti atomdisertai perubahanya inti menjadi inti atom lain,ini disebut peluruhan alfa.[2]
            Dalam peluruhan alfa, sebuah inti tidak stabil meluruh menjadi dus inti ringan dan sebuah partikel alfa (sebuah inti ), menurut reaksi hukum kekalan nucleon dan muatan maka : [3]
 +
X dan X’ menyatakan jenis inti yang berbeda. Contoh dari peluruhan alfa antara lain : [4]
  →   + 
 →   +
2.2 Peluruhan Alfa secara Spontan ,Energi Kinetik Partikel Alfa, dan Peristiwa Terobos Halang oleh Partikel Alfa
            Inti inti radioaktif tertentu secara spontan dapat memancarkan partikel α. Secara eksperimen dapat diketahui bahwa partikel alfa adalah inti atom helium yang memiliki nomor massa 4 dan nomor atom 2.[5]
            Jenis peluruhan seperti ini membebaskan energi karena inti hasil peluruhan terikat lebih erat dari pada inti semula. Energi yang terbebaskan, yang muncul sebagai energi kinetik partikel alfa dan inti “anak” X’, dapat dihitung dari massa semua inti yang terlibat pada persamaan di bawah ini :[6]
Q  =  [m(X) – m(X’) – m(α)]
dimana :
m(X) = massa inti induk
m(X’) = massa inti turunan
m(α) = massa inti helium
Q = energi desintegrasi
Untuk peluruhan spontan, harus dipenuhi bahwa Q>0, maka :[7]
[m(X) – m(X’) – m(α) ] > 0  atau  m(X) > m(X’) + m(α)
Yang merupakan syarat agar terjadi peluruhan alfa. Energi ysng dilepaskan disaat peluruhan disebut sebagai energi desintegrasi yang disimbolkan dengan Q. Energi yang dilepaskan ini berbentuk energi kinetik.[8]
            Seperti yang kita lakukan pada perhitungan energy ikat, dapat diperlihatkan bahwa massa electron saling menghapuskan. Jadi, kita dapat menggunakan saja massa atom. Karena energi yang terbebaskan muncul sebagai energi kinetik maka : [9]
Q = Kx’ + Kα
dengan anggapan kita telah memilih suatu kerangka acuan dalam mana inti X diam, maka sesuai dengan hukum kekekalan momentum, seperti pada persamaan dibawah ini :[10]
pα = px’
m(α)v(α) = m(x’) v(x’)
dari persamaan diatas yaitu persamaan energy desintegrasi dan hukum kekelan momentum kita eliminasikan, karena biasanya kita tidak mengamati inti anak dalam laboratorium (sebuah partikel alfa dari dapat bergerak dalam suatu bahan relative lebih jauh daripada suatu inti berat). Karena energy khas peluruhan partikel alfa adalah beberapa MeV, maka energy kinetic alfa dan inti anak kecil dibandingkan terhadap energy diam masing – masingnya. Karena m(α)  A dan m(x’) maka : [11]
AKα = A-4 Kx’
Kα =  Kx’
Kx’ = Q maka :                                   Kα =  Q
            Peluruhan alfa merupakan salah satu contoh dari efek terobos haling, yang dibahas dibuku krane Bab 5. Marilah kita bayangkan dua neutron dan dua proton yang kebetulan berada didalam sebuah inti atom untuk membentuk sebuah partikel alfa. Partikel alfa terikat dalam inti atom oleh gaya inti. Begitu ia bergerak melewati jari – jari inti R, ia merasakan tolakan coulomb dari inti anak. Energi potensial dalam situasi itu dapat dinyatakan dalam gambar 9.11 dibuku fisika modern karangan krane. Tinggi potensial haling dalam inti berat adalah 30 hingga 40 MeV, sedangkan partikel alfa 4 hingga 8 MeV. [12]
            Probabilitas persatuan waktu   bagi partikel alfa untuk muncul di laboratorium adalah probabilitas menerobos potensial halang dikalikan dengan banyaknya partikel alfa menumbuk penghalang per detik dalam usahanya untuk keluar, Jika partikel alfa bergerak dengan laju v di dalam sebuah inti berjari – jari R, maka selang waktu yang diperlukannya untuk menumbuk penghalang bolak – balik di dalam inti adalah 2R/v. Dalam inti berat R 6 fm, partikel α menumbuk “dinding” inti sebanyak  kali per detik.[13]
            Dalam Bab 5 buku fisika modern karangan krane menjelaskan bahwa probabilitas P untuk menerobos potensial penghalang setinggi V0 berbanding lurus dengan e yaitu P   , dengan L adalah jarak terobos, dan k =  . [14]
            Walaupun penghalang “datar” dengan ketinggian V0 tidak merupakan hampiran baik bagi penghalang, kita dapat mempelajari efek tinggi dan tebal penghalang dengan meninjau transmisi melalui penghalang datar. Kita memperkirakan bahwa probabilitas transmisi akan bergantung table penghalang dan perbedaan antara tinggi penghalang dan energy partikel. Tinggi maksimum penghalang  adalah energy Coulomb partikel alfa pada permukaan inti atom,seperti pada persamaan dibawah ini : [15]
 = 1/4  * 2(Z-2) /R
R adalah jari –jari inti dan factor “2” pada pembilang datangnya dari muatan elektrik partikel alfa. Selisih antara tinggi penghalang dan energi kinetik partikel bervariasi dari  -  pada permukaan inti atom hingga 0 pada jari – jari R’. Karena pada jarak R’ partikel alfa “ meninggalkan “ penghalang,maka kita akan mengambil nilai rata – rata ½(  - ) sebagai nilai wakil dari ( - E), yaitu tinggi penghalang “datar” diatas energy kinetic partikel. Bagi ketebalan efektif L, kita akan pula mengambil nilai rata – rata ½(RR’). Karena pada jarak R’ energi potensial V = (1/4 )[2(Z – 2) /R’ ] sama dengan energy kinetic partikel alfa, , ketika ia berada jauh sekali dari inti atom maka :[16]
R’ = / 4  * 2(Z -2) /
Dengan demikian, taksiran kasar bagi probabilitas peluruhan alfa adalah :
𝞴 = (v / 2R
dari perhitungan kasar ini tampak bahwa rentang usia paruh yang begitu lebar bagi peluruhan alfa diakibatkan oleh efek terobos halang partikel alfa berenergi tinggi menerobosi penghalang yang lebih sempit dan rendah sedangkan partikel alfa berenergi rendah sebaliknya.[17]


           
           













BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Peluruhan Alfa merupakan suatu fisi nuklir yang terpecah pada dua inti induk, yaitu inti ringan dan partikel alfa .Pada peluruhan alfa ini adanya energy yang terbebaskan,energy yang dibebaskan disebut dengan energy desintegrasi (Q).
Contoh peristiwa yang terjadi pada peluruhan alfa ini adalah potensial terobos halang , dimana pada suatu inti terdiri dari 2 neutron dan 2 proton untuk membuat partikel alfa, pada saat potensial halang tersebut peluruhan alfa akan menumbuk dinding sebanyak  per detiknya dengan memancahkan persamaan schrodinger.
3.2  Saran

Kesempurnaan hanya milik sang kuasa, pada pembuatan paper ini saya kekurangan literature sehingga isi dari paper ini kurang menarik bagi pembaca ,untuk selanjutnya kepada pembaca agar memberi saran untuk kekurangan dari paper ini.terimkasih.


























DAFTAR PUSTAKA
Krane, Kenneth. 1992. Fisika Modern.Jakarta : UI Press
Purwoko.2009.Physics For Senior High School.Jakarta : Yudhistira
Sarwoono, Djoko.1994.Fisika Inti Pendahuluan. Malang : IKIP  Malang
Wiyanto,Yusman.2009. Fisika Nuklir. Yogyakarta : Pustaka Belajar



[1] Yusman Wiyanto, Fisika Nuklir,(Yogyakarta : Pustaka Pelajar,2009), h.124
[2] Purwoko,Physics For Senior High School,(Jakarta : Yudhistira,2009), h.380
[3] Kenneth Krane,Fisika Modern,(Jakarta : UI Press, 1992), h.366
[4] Djoko Sarwoono, Fisika Inti Pendahuluan, (Malang : IKIP Malang, 1994), h.43
[5] Op.cit
[6] Loc.cit
[7] Djoko Sarwoono, Fisika Inti Pendahuluan, (Malang : IKIP Malang, 1994), h.43
[8] Ibid
[9] Kenneth Krane,Fisika Modern,(Jakarta : UI Press, 1992), h.366

[10] Ibid
[11] Kenneth Krane,Fisika Modern,(Jakarta : UI Press, 1992), h.367
[12] Ibid
[13] Ibid
[14] Kenneth Krane,Fisika Modern,(Jakarta : UI Press, 1992), h.368
[15] Ibid
[16] Op.cit
[17] Op.cit



Comments